Setelah Kematian ?

Sendiri

Tanpa kawan menemani

Berteriak hanya dalam hati

Semua sibuk mengurus diri sendiri

Tak ada lagi harga diri

Tak ada lagi yang ditutupi

Juga tak ada materi

Apalagi untuk berkolusi

Inilah awal dari kekekalan nan abadi

Saat malaikat datang hari demi hari

Membawa nikmat Ilahi

Kebahagiaan nan hakiki

Senang tak bertepi

Atau

Menyiksa sekujur diri

Terus berulang tanpa henti

Menyesal tak terperi

Jadikan hamba bertaubat, ya Rabbi

Dan jadikan pula hamba menyucikan diri

Andaikan mengingat kematian menjadi penyerta dalam setiap tindakan, niscaya tiada lagi perbuatan kecuali kebajikan yang keluar dari raga. Bukan ingat yang disertai keputusasaan dalam berkarya, melainkan ingat yang membawa pada optimisme akan keridhoan Ilahi dan berbuah amal kebajikan.

Seorang presiden tidak akan lagi memutuskan sebuah kebijakan tanpa mempertimbangkan apakah kebijakan itu bermanfaat bagi rakyatnya atau tidak, bukan untuk kepentingan diri dan partainya. Dia juga akan kembali bertanya pada dirinya apakah kebijakan tersebut akan membawakeselamatan bagi dirinya di hari perhitungan kelak atau justru menjerumuskannya kepada kesengsaraan. Demikianlah Nabi Saw. Pun mengingatkan dengan tegas, “pemimpin yang tidak memperhatikan kepentingan rakyatnya, tidak akan diperhatikan oleh Allah dihri akhirat”. Astagfirullah, alangkah sengsaranya ketika seorang manusia sudah tidak lagi dipedulikan oleh penciptanya.

Ketakutan rakyat kecil dalam menjalani kehidupan yang semakin berat karena harga BBM naik, tariff listrik dan telepon melonjak, akan terkalahkan oleh hebatnya ketakutan menghadapi kematian. Sehingga rasa ikhlas menghadapi sulit dan ganasnya kehidupan, tidak menjerumuskan dirinya pada keputusasaan, tetapi malah menimbulkan semangat untuk berbenah, agar tidak sengsara di kehidupan yang abadi kelak. Nabi juga mengingatkan, “Seandainya kalian tahu apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa”

Demikian juga sibuknya para pendemo menyuarakan ketidakpuasaan akan berubah menjadi paduan suara yang menggema melantunkan zikir dan doa demi menyongsong kematian yang tidak seorangpun tahu kapan dan di mana. “Dan tidak seorangpun tahu apa yang akan dilakukannya esok hari. Dan tidak ada seorangpun tahu di mana dia akan mati “ ( Q.S.Lukman:31:34 ).

Barangkali benarlah adanya ungkapan seorang khatib dalam sebuah khutbah Jumat di suatu daerah yang mengatakan, “Kondisi bangsa Indonesia yang dipenuhi dengan krisis dan masalah ini disebabkan pemimpin dan rakyatnya kurang mengingat kematian.”

Tinggalkan Komentar